fbpx
Jenis-jenis Pantun Jenaka, Pantun Nasehat, dan Pantun Kiasan

Jenis-jenis Pantun Jenaka, Pantun Nasehat, dan Pantun Kiasan

Pantun merupakan budaya yang sudah menancap dengan kuat di Nusantara. Di Indonesia sendiri, sudah ada jenis-jenis pantun jenaka, pantun Nasehat, dan pantun kiasan yang makin melengkapi khazanah bahasa di Indonesia. Hal ini tak luput dari fungsi dari pantun itu sendiri.

Selain sebagai ciri khas kebahasaan, pantun juga berfungsi sebagai kehidupan masyarakat yang dicerminkan lewat tanda, kata, lambang, ataupun simbol tertentu. Pantun, merupakan salah satu jenis puisi lama yang di dalamnya terdapat empat baris. Pantun sendiri, berasal dari kata Panutun.

Dalam bahasa Minangkabau panutun bisa diartikan sebagai ‘penuntun’. Dalam bahasa Jawa, pantun dikenal sebagai parikan. Sedangkan dalam bahasa Sunda, pantun lebih dikenal sebagai sisindiran. Dan dalam bahasa batak, pantun dikenal sebagai umpasa. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, pantun punya banyak jenis.

Baca juga: Panduan Cara Menulis Daftar Pustaka Dari Buku, Jurnal Maupun Internet

Pantun dengan keragaman jenisnya, punya pesan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing dari kepentingan ataupun situasi. Jika ingin mengetahui lebih dalam tentang jenis-jenis pantun jenaka, pantun Nasehat, dan pantun kiasan, kamu bisa lanjut membacanya pada bagian berikut.

Jenis-jenis Pantun Jenaka, Pantun Nasehat, dan Pantun Hiasan

Sebenarnya, masih ada lagi selain ketiga jenis pantun tersebut. Namun, pada artikel ini memang khusus untuk membahas ketiganya saja. Bagaimana penjelasan secara lengkapnya? Simak tulisan ini sampai habis, ya.

1. Pantun Jenaka

Pantun jenaka, merupakan jenis pantun yang dibuat dengan tujuan menghibur siapa saja yang mendengarkan. Terkadang, pantun jenaka juga dijadikan sebagai media untuk saling-sindir pada suasana yang penuh dengan keakraban. Suasana keakraban, merupakan faktor terpenting ketika melontarkan pantun jenaka.

Dengan suasana tersebut, nantinya tidak akan ada pihak yang merasa tersinggung. Selain itu, pantun jenaka akan membuat suasana jadi semakin riang dan menyenangkan.

Baca Juga:  Sejarah dan Penjelasan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Kalau kamu penasaran seperti apa pantun jenaka, beberapa contoh berikut ini mungkin akan membuatmu semakin mengerti:

1. Harimau jadi semakin sombong

Suka menghina siapa saja yang tampilannya jelek
Masih kecil sudah ompong
Hampir sama dengan nenek-nenek

2. Daun terlebar adalah daun talas

Digunakan untuk menaikkan daun talam
Makanya jangan terlalu malas
Sikat gigi harus pagi dan malam

3. Ada gelang di pekarangan

Nampaknya ia sudah karatan
Siapa saja yang buang sampah sembarangan
Pasti pacarnya mirip orang utan

4. Pak Anas berlibur ke Bali

Suka melihat bule mandi matahari
Pantas saja kau bau sekali
Ternyata belum mandi berhari-hari

5. Makan malam sepiring berdua

Rasanya mantap tiada terkira
Hati-hati kalau cowok pandai menggoda
Diam-diam wataknya seperti buaya

6. Burung elang menembus udara

Mengelilingi langit luas tiada batasnya
Sangat sedih melihat mantan bahagia
Bergandeng mesra dengan pacar barunya

7. Seseorang yang jatuh cinta

Hatinya seperti kebun bunga
Setiap hari terbawa suasana
Selalu senyum sendiri bak orang gila

8. Ke pasar loak mencari buku

Buku dibeli sebab harganya murah
Sungguh nasib tak berpihak padaku
Cari pacar tak lekas bersua

9. Berakit-rakit menuju hulu

Asyik berenang pergi ke tepian
Mantan pacar sudah ke penghulu
Nasib kita masih kesepian

10. Mata bening ibarat berlian

Raut wajah bak sinar rembulan
Aku kira kau cinta sungguhan
Ternyata hanya sebatas kasian

Kesepuluh pantun di atas, merupakan contoh dari pantun jenaka. Dalam pantun tersebut, biasanya dimulai dengan bait pembuka. Dan agar lebih mudah, harus dibuat seirama. Bait dua dan empat merupakan isinya. Biasanya, di situlah orang yang membuat pantun harus bisa jenaka.

Baca juga: Cara Menulis Daftar Pustaka untuk Jurnal

2. Pantun Nasehat

Kalau di bagian sebelumnya kamu sudah mengenal apa itu pantun jenaka, sekarang waktunya kamu mengenal apa itu pantun Nasehat. Jadi, pantun Nasehat adalah jenis puisi lama yang biasanya digunakan untuk menyampaikan Nasehat, wejangan, atau petuah terhadap seseorang.

Baca Juga:  Part of Speech: Penjelasan Pengertian, Jenis, Contoh, dan Cara Penggunaan

Pantun Nasehat, biasanya diangkat dari berbagai topik. Bisa kesehatan, agama, pendidikan, dan juga keluarga. Selain itu, pantun Nasehat juga banyak diberikan pada anak, siswa, sesama teman, ataupun ke masyarakat umum. Selain Nasehat, terkadang ada juga motivasi di dalamnya.

Adapun struktur dari pantun Nasehat, biasanya disusun seperti aturan berikut:

  • Bait: banyaknya baris yang ada dalam suatu pantun.
  • Baris: kumpulan dari berbagai kata yang memiliki makna lalu membentuk sampiran dan isi.
  • Rima: huruf vokal terkahir yang ada dalam kalimat pantun.
  • Sampiran: bagian pantun yang ada di baris pertama dan kedua, fungsinya untuk membuka pantun.
  • Isi: bagian yang memuat isi dari pantun berupa Nasehat, wejangan, ataupun petuah.

Agar lebih memahami pantun Nasehat, berikut ini beberapa contohnya:

1. Beli solar pakai tangki

Solar dibeli oleh Pedrosa
Bersihkan hati dari iri dan dengki
Sucikan raga yang berlumur dosa

2. Pak maman main cemeti

Bunyi gelegar cukup menakutkan
Ayo jaga akhlak serta budi pekerti
Akhlak buruk mari dihilangkan

3. Buah tomat buah stroberi

Dibagikan ke masyarakat pakai keranjang
Mbok ya ayo instrokspeksi diri sendiri
Bukan malah asyik menghujat orang

4. Orang tua tak suka santan

Karena tubuhnya bisa kesakitan
Nggak penting banget mikirin mantan
Lebih baik mengingat utang

5. Pagi hari minum kopi segelas

Tambahkan gula agar tidak pahit
Kalau belajar memang harus ikhlas
Mewujudkan mimpi yang setinggi langit

3. Pantun Kiasan

Setelah dua jenis pantun dipahami, jenis pantun ketiga juga tak kalah penting untuk diketahui. Pantun kiasan, merupakan puisi lama yang di dalamnya berisikan ibarat ataupun perumpamaan. Isi dari pantun kiasan, tentu saja menggunakan makna yang sifatnya konotatif.

Baca Juga:  Definisi Wawasan Nusantara: Pengertian, Fungsi, Asas dan Implementasinya

Pantun ini, biasanya juga diisi dengan peribahasa. Pantun kiasan, biasanya digunakan untuk memberikan Nasehat secara tersirat atau bisa juga digunakan untuk mengkritik secara halus. Secara umum, ciri-ciri pantun Nasehat hampir sama dengan jenis pantun lainnya. Hal yang berbeda hanya kiasan yang digunakan dari pantun ini.

Agar kamu lebih paham mengenainya, berikut ini contoh pantun kiasan:

1. Mulut diam hati merenung

Loncat-loncat seperti anak tupai
Hendak hati memindahkan gunung
Apa daya tangan tidak sampai

Maksud dari puisi ini, adalah seseorang yang punya keinginan sangat besar. Menggunakan kiasan gunung. Namun, tangannya tidak sampai atau kemampuannya tidak cukup. Maka, ini adalah pantun yang berisikan keinginan yang mustahil untuk digapai.

2. Ibu Budi sedang menumis

Lupa mencampur asam belimbing
Tak ada guna lama-lama menangis
Tak akan penuh telaga kering

Maksud dari puisi ini, yaitu menangis bukan merupakan perilaku yang tepat untuk menghadapi suatu masalah. Sebab, masalah tersebut tidak akan bisa selesai jika seseorang hanya menangisinya saja. Apalagi, menangis saja tanpa berbuat apa-apa. Bukannya selesai, masalah bisa jadi tambah besar karenanya.

3. Bu Joko sedang sibuk memasak

Satu tangan untuk menggoreng, satu lagi untuk menyangrai
Kalau takut dilambung ombak
Jangan pilih rumah di tepi pantai

Maksud dari puisi kiasan ini, yaitu setiap perilaku ataupun perbuatan, pasti mengandung risikonya sendiri. Jadi, kalau kamu tak ingin mendapatkan risiko yang besar, maka pastikan tidak memilih untuk berperilaku yang tidak-tidak.

Itulah penjelasan mengenai jenis-jenis pantun jenaka, pantun Nasehat, dan pantun kiasan yang bisa kamu pahami. Selain itu, sudah disediakan juga contoh lengkap agar lebih mudah jika ingin mengerti. Dengan begitu, kini kamu sudah bisa membuatnya sendiri atau minimal menyukai salah satu budaya dari Nusantara ini.